oleh

5 Pesepak Bola ini Bangkit Kembali Usai Diganti Posisi Bermainnya

Manajer Manchester United, Jose Mourinho, berencana menjadikan Paul Pogba sebagai pemain bertahan. Padahal sebelumnya, Pogba adalah seorang gelandang tengah.

Ketika masih berseragam Juventus dari 2012 hingga 2016, penggawa timnas Prancis itu kerap menghuni pos di lini tengah. Bermain dalam formasi 3-5-2 dan 4-3-3, Pogba mampu menjadi sosok andalan I Bianconeri dalam membangun serangan.

Dia pun mampu tampil impresif. Dari 178 pertandingan yang dijalani bersama Juventus, Pogba mampu mencetak 34 gol dan 43 assist dari 178 pertandingan di seluruh ajang kompetisi.

Memutuskan kembali ke Manchester United pada 8 Agustus 2016, Paul Pogba diharapkan kembali memperlihatkan performa terbaiknya. Tetapi, pemain 23 tahun itu belum mampu tampil gemilang pada awal musim ini.

Dia baru mencetak tiga gol dan belum menyumbangkan assist dari 12 pertandingan di seluruh ajang kompetisi. Dari tiga gol tersebut, salah satunya tercipta dari titik putih.

Penampilan Paul Pogba yang tak kunjung membaik membuat manajer MU, Jose Mourinho, ingin mengubah posisi si pemain. Mourinho berniat memainkan Pogba sebagai bek tengah.

“Pogba memiliki potensi luar biasa. Dia adalah pemain top dan, menurut saya, dia bisa juga menjadi bek tengah fenomenal, dengan kualitas umpan, kemampuan duel udara, dan kekuatan dari tubuh yang besar,” ujar Mourinho.

“Bagi tim yang bermain bertahan, dia akan menjadi bek tengah fenomenal jika datang dari barisan belakang sembari membawa bola. Jadi, dia bisa bermain di berbagai posisi,” lanjutnya.

Andai Paul Pogba berganti posisi, bukan mustahil kariernya justru akan semakin bersinar. Sebab, sejumlah pesepak bola mampu meraih kesuksesan saat berganti peran.

Berikut ini lima pesepak bola yang makin sukses setelah berganti posisi.

1. Gianluca Zambrotta: gelandang kanan menjadi bek kiri

Zambrotta merupakan salah satu gelandang kanan yang disegani pada periode 1997 hingga 2002. Dalam kurun waktu tersebut dia bermain di dua klub, yakni Bari dan Juventus.

Bersama Bari, dia mencetak delapan gol dalam 65 laga dari 1997 sampai 1999, dan saat gabung ke Juventus dari 1999 sampai 2000, Zambrotta hanya mendulang tujuh gol dalam 121 pertandingan. Berkat penampilannya sebagai gelandang, Juventus berhasil memenangkan trofi Serie A 2001-2002.

Pada musim 2002-2003, Marcelo Lippi yang saat itu merupakan pelatih Juventus memutuskan untuk memindahkan posisi Zambrotta sebagai bek kiri, dan posisinya sebagai gelandang digantikan oleh Mauro Camoranesi.

Pertaruhan tersebut ternyata berhasil, dan membuat Zambrotta jadi bek yang ditakuti di Serie A. Juventus mampu memenangkan gelar Serie A 2002-2003, dan Supercoppa Italiana 2002 dan 2003. Juventus juga berhasil mencapai partai final Liga Champions 2003, namun kalah dari AC Milan.

Saat Juventus terkena skandal Calciopoli, Barcelona memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan jasa pria asal Italia itu pada 4 Agustus 2006. Dia pun semakin nyaman dengan perannya sebagai bek kiri.

2. Kolo Toure: gelandang bertahan menjadi bek

Saat Arsene Wenger mendatangkannya ke Arsenal pada 14 Februari 2002, posisi pertama Toure adalah gelandang bertahan. Meski tampil kurang maksimal, Toure yang tampil dalam 40 laga di seluruh ajang kompetisi berhasil membawa The Gunners menjadi klub yang tak terkalahkan di Premier League 2003-2004.

Semusim berselang, Wenger mulai mengubah posisi pemain asal Pantai Gading itu sebagai pemain bertahan. Dia pun bergantian duet bersama Sol Campbell dan Philippe Senderos di jantung pertahanan Arsenal.

Eksperimen tersebut berjalan sukses. Dia berhasil membawa Arsenal ke partai final Liga Champions 2005-2006, plus menorehkan 10 clean sheets pada musim tersebut.

3. Gareth Bale: bek kiri menjadi sayap kanan

Saat masih berseragam Southampton pada musim 2006-2007, Bale tercatat pernah tampil sebagai bek kiri. Pemain timnas Wales itu pun mampu tampil cukup baik pada posisi tersebut.

Ketika menerima pinangan dari Tottenham Hotspur pada 25 Mei 2007, Gareth Bale mulai dimainkan sebagai gelandang kanan, sayap kanan dan kiri, serta second striker. Bersama Spurs, dia sukses mencetak 56 gol plus 58 assist dari 203 penampilan di seluruh ajang kompetisi.

Setelah enam musim membela Tottenham, Gareth Bale melanjutkan kariernya bersama Real Madrid pada 1 September 2013. Sejak saat itu, Bale lebih sering bermain sebagai sayap kanan.

Peran baru tersebut membuat performa pemain 27 tahun itu semakin meningkat. Dia mampu mendulang 62 gol plus 48 assist dari 134 pertandingan di seluruh ajang kompetisi bersama El Real. Gareth Bale juga turut membantu Real Madrid meraih lima gelar juara, termasuk dua trofi Liga Champions.

4. Thierry Henry: sayap kiri menjadi penyerang

Thierry Henry memulai kariernya sebagai pemain sayap, tepatnya bersama AS Monaco dari 1992 hingga 1999 dan Juventus musim 1998-1999.

Dengan perannya sebagai sayap kiri di Monaco, Henry berhasil mencetak 28 gol dari 141 pertandingan. Berkat kontribusinya tersebut Monaco menjuarai Ligue 1 Prancis 1996-1997 dan Trophee des Champions 1997.

Tampil apik bersama AS Monaco membuat Juventus meminangnya pada Januari 1999. Tetapi, pemain asal Prancis tersebut gagal bersinar bersama Juve. Alhasil, dia hanya mencetak tiga gol dalam 19 pertandingan bersama I Bianconeri musim 1998-1999.

Meski tampil melempem di Juve, manajer Arsenal, Arsene Wenger, melihat potensi besar dalam diri Thierry Henry. Wenger akhirnya memboyong Henry ke Arsenal pada 3 Agustus 1999.

Di bawah asuhan Wenger, Herny diplot sebagai penyerang. Hasilnya, dia mampu tampil gemilang. Selama hampir sembilan musim membela skuat Meriam London, Henry mengoleksi 228 gol dari 258 penampilan di seluruh ajang kompetisi.

Tujuh gelar juara pun berhasil dipersembahkan pria 39 tahun itu untuk Arsenal. Ketika memutuskan pensiun pada 16 Desember 2014, Thierry Henry dikenal sebagai salah satu penyerang top dunia yang sukses bersama Arsenal, Barcelona, dan New York Red Bulls.

5. Phillip Lahm: dari gelandang bertahan menjadi bek

Lahm merupakan pemain asli jebolan akademi sepak bola Bayern Munchen. Sejak mengawali karier sebagai pesepak bola, Lahm berposisi sebagai gelandang bertahan.

Tetapi, dia kalah bersaing dengan gelandang top Die Bayern pada masa itu, mulai dari Jens Jeremies, Ze Roberto, hingga Hasan Salihamidzic. Lahm akhirnya angkat kaki dari The Bavarians dan dipinjamkan ke VfB Stuttgart pada musim 2003-2004.

Pelatih Stuttgart pada saat itu, Felix Magath, melihat Lahm punya potensi sebagai bek kiri. Pemain yang kini berusia 32 tahun tersebut tampil apik.

Phillip Lahm bermain dalam 40 laga dan menyumbangkan satu gol buat Stuttgart. Saat kembali ke Bayern Munchen pada 2005, dia tetap menjadi gelandang.

Ketika Louis van Gaal duduk di kursi pelatih pada musim 2009-2010, Lahm diplot sebagai bek kanan. Sejak saat itu, Lahm sering tampil sebagai bek kanan, bek kiri, namun sesekali bermain sebagai gelandang bertahan.

Berkat kontribusinya Bayern Munchen meraih 22 gelar juara, termasuk delapan gelar Bundesliga Jerman, tujuh trofi DFB Pokal, dan satu Liga Champions.

News Feed